Tendostars
Knowledge

Kolaborasi Itu Sebenarnya Apa?

Kolaborasi ada di mana-mana. Tetapi apakah semua kerja sama benar-benar kolaborasi? Artikel ini membahas apa yang membuat sebuah pertemuan antara dua pihak menghasilkan nilai atau kemungkinan baru.

Dadan MS

Written by

Dadan MS

Published
Reading time 5 min read
Kolaborasi Itu Sebenarnya Apa?

Mengapa Kita Berkolaborasi?

Kolaborasi ada di mana-mana.

Brand berkolaborasi dengan brand. Artis dengan brand. Perusahaan dengan komunitas. Teknologi dengan budaya. Pemerintah dengan pelaku kreatif. Bahkan dua individu dengan kemampuan dan pengalaman yang berbeda.

Kita semakin sering mendengar kata “kolaborasi”.

Ngomong sih gampang.

Tapi apakah semua benar-benar kolaborasi?

Mengapa Kita Berkolaborasi?

Pertanyaan paling sederhana mungkin justru yang paling penting:

Apakah kita berkolaborasi karena membutuhkan partner? Karena tidak memiliki resource tertentu? Karena ingin menjangkau audience baru? Karena ingin masuk ke komunitas atau pasar yang sebelumnya tidak mereka miliki? Atau karena ada sesuatu yang ingin diciptakan ketika dua pihak dengan kemampuan berbeda bertemu?


Semua pihak pasti punya motif dalam melakukankolaborasi.

Untuk menciptakan sesuatu yang baru, mendapatkan akses, memperbesar kemampuan, belajar, masuk ke ruang baru, menambah audience, menyelesaikan masalah, atau menciptakan dampak.

 

Tetapi alasan melakukan kolaborasi belum menjelaskan apakah ini benar-benar kolaborasi atau hanya bekerja bersama.

Tidak Semua Kerja Sama Adalah Kolaborasi

Kerja sama dan kolaborasi sering dianggap sama. Padahal ada perbedaan penting.

Dalam kerja sama, dua pihak dapat saling membantu sambil tetap mengerjakan bagian masing-masing. Tujuannya tercapai melalui pembagian peran dan koordinasi.

 

Dalam kolaborasi, kekuatan masing-masing pihak masuk ke dalam proses penciptaan bersama. Bukan sekadar bekerja bersama atau berdampingan, tetapi saling memengaruhi sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar kontribusi individual.

 

Hal yang sama berlaku pada co-branding.

Dua logo dalam satu kampanye belum tentu kolaborasi. Sponsorship, endorsement, licensing, atau campaign bersama juga tidak otomatis menjadi kolaborasi.

 

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang berubah atau dihasilkan kalau kedua pihak bertemu dalam sebuah kolaborasi?

A + B → C

Bayangkan A memiliki sesuatu yang dibutuhkan B. B memiliki sesuatu yang dibutuhkan A.


A membawa talent.
B membawa audience.


A memiliki teknologi.
B memiliki konteks budaya.


A memiliki brand.
B memiliki komunitas.

Di situlah aset kolaborasi mulai terlihat.

Yang dipertukarkan dalam kolaborasi tidak selalu uang.

Bisa berupa produk, teknologi, pengetahuan, talent, audience, komunitas, distribusi, brand, kredibilitas, budaya, IP, data, akses, pengalaman, atau konteks.


Tetapi kolaborasi yang sebenarnya tidak berhenti pada pertukaran.

 

A + B → C

Lalu apa itu C?

 

C adalah nilai atau kemungkinan baru yang muncul karena A dan B dikombinasikan.

C tidak harus berarti sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada di dunia.

Sebuah produk mungkin sudah ada. Sebuah audience mungkin sudah ada. Sebuah teknologi mungkin sudah ada.

 

Tetapi ketika dipertemukan dengan sesuatu yang berbeda, bisa muncul bentuk, pengalaman, akses, capability, audience, atau value baru yang tidak dapat dicapai oleh A atau B sendirian dalam bentuk yang sama.

Itulah yang membuat kolaborasi menarik.

 

Bukan sekadar A ditambah B, tetapi menghasilkan kemungkinan baru dari pertemuan keduanya.

Perbedaan Justru Bisa Menjadi Kekuatan Baru

Kolaborasi tidak selalu membutuhkan kesamaan.

Semua tergantung tujuannya.

Justru perbedaan sering menjadi sumber potensinya.


Pertanyaannya bukan hanya:

“Dengan siapa kita harus berkolaborasi?”

Tetapi:

“Apa yang kita punya yang dibutuhkan pihak lain?”


Dan sebaliknya:

“Apa yang mereka punya yang tidak kita miliki?”


Ketika dua pihak memiliki sesuatu yang saling melengkapi, muncul kemungkinan baru.

Perbedaan → Saling Melengkapi → Kombinasi → Nilai Baru


Namun, perbedaan saja tidak cukup.

Dua pihak bisa sangat berbeda tetapi tidak memiliki hubungan yang relevan. Karena itu dibutuhkan fit: kesesuaian tujuan, audience, nilai, konteks, kemampuan, atau kesempatan.

Jadi, collaboration bukan sekadar mencari pihak yang berbeda.


Yang dicari adalah perbedaan yang saling melengkapi.

Dari Kolaborasi Menjadi Nilai Baru

Inilah hipotesis awal yang ingin kita cari dan diuji.

Kolaborasi bukan sekadar menggabungkan dua hal. Kolaborasi adalah menciptakan nilai atau kemungkinan baru yang tidak dapat dicapai oleh masing-masing pihak sendiri dalam bentuk yang sama.

 

C bisa berupa produk.

Bisa berupa pengalaman.

Bisa berupa audience baru.

Bisa berupa budaya.

Bisa berupa pengetahuan.

Bisa berupa komunitas.

Bisa berupa bisnis.

Bisa juga berupa dampak sosial.

 

Dan yang paling penting:

Harus merubah fundamental value menjadi lebih baik atau bertambah karena pertemuan tersebut.

 

Kita bisa melihat kemungkinan ini dalam berbagai contoh: GoPro × Red Bull, LEGO × NASA, Louis Vuitton × Supreme, IKEA × Virgil Abloh, Vans × komunitas, Coca-Cola × Coke Studio, hingga kolaborasi antar bidang,  musik, pemerintah, teknologi, dan ruang publik.

 

Masing-masing memiliki tujuan, mekanisme, dan hasil yang berbeda.

Tetapi semuanya bisa diuji dengan pertanyaan yang sama.

Pertanyaan Sederhana di Sebuah Kolaborasi

Apa yang dibawa masing-masing pihak?

Apa yang masing-masing pihak dapatkan?

Apa yang sebenarnya dipertukarkan?

Apa nilai baru yang tercipta?

 

Dan pertanyaan yang paling penting:

Bisakah nilai fundamental muncul tanpa kolaborasi itu?

 

Jika jawabannya ya, mungkin kita sedang melihat partnership, sponsorship, campaign, atau hanya bekerja bersama.

Jika jawabannya tidak, jika sesuatu berubah, berkembang, atau mungkin menjadi karena kedua pihak hadir bersama, di situlah kita mulai mendekati makna kolaborasi yang sesungguhnya.

 

Namun, kolaborasi juga tidak selalu berhasil.

Bisa terjadi ketidakseimbangan value, perbedaan tujuan, mismatch antara brand dan audience, atau kolaborasi yang hanya menghasilkan perhatian tanpa menciptakan nilai fundamental yang nyata.

 

Karena itu, pertanyaan tentang kolaborasi bukan sekadar:

“Siapa yang cocok untuk diajak bekerja sama?”

 

Yang mendasar adalah:

“Value apa yang bisa kita ciptakan bersama yang tidak bisa kita ciptakan sendiri?”

 

Mungkin, di situlah kolaborasi benar-benar bisa dimulai.

Conversations . (0)

Join the conversation

Log in to share your thoughts.

Log In to Comment

No comments yet. Be the first to join the conversation!

Featured in this story.

Antrean Lagu
Track Cover